Pagi itu, suasana SD Negeri Jogotrunan terasa berbeda. Para siswa berkumpul dengan penuh semangat mengikuti kegiatan Jogokidz Tolak Korupsi. Mereka belajar bahwa melawan korupsi tidak harus dimulai dari hal besar. Justru, sikap jujur dan bertanggung jawab dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari di sekolah.
Guru mengajak siswa memahami bahwa jujur itu keren. Tidak mencontek ketika ulangan, mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri, dan berani mengakui kesalahan adalah contoh nyata perilaku jujur. Ketika menemukan barang milik teman, siswa juga diajarkan untuk mengembalikannya kepada pemiliknya, bukan mengambil atau menyimpannya untuk diri sendiri.
Di sekolah, para siswa juga membiasakan diri mengantri dengan tertib. Mereka memahami bahwa menyerobot antrean berarti mengambil hak orang lain. Selain itu, tidak boleh ada pemalakan atau meminta sesuatu secara paksa kepada teman. Semua siswa harus saling menghargai, membantu, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta menyenangkan.
Melalui gerakan Jogokidz Tolak Korupsi, siswa diajak menjadi generasi yang berani berkata “tidak” terhadap kecurangan. Mereka belajar bahwa korupsi dapat tumbuh dari kebiasaan kecil seperti berbohong, mengambil sesuatu yang bukan haknya, berbuat curang, atau menyalahgunakan kepercayaan. Karena itu, membangun karakter jujur sejak usia sekolah merupakan langkah penting untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Jogokidz bukan hanya anak yang pintar, tetapi juga anak yang berkarakter. Mereka berani jujur, berani bertanggung jawab, berani menolak kecurangan, dan berani melakukan hal yang benar meskipun tidak ada yang melihat.


